222018Jun
BAHAGIA MENYUSUI

BAHAGIA MENYUSUI

WhatsApp Image 2018-01-31 at 1.42.34 PMOleh: Novita Hardiny, SE (Wakil ketua TP Pkk kabupaten Trenggalek, dan Ketua Umum Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Trenggalek)
Terlahir sebagai perempuan, adalah anugerah luar biasa yang Allah SWT ciptakan. Mengapa tidak, perempuan menurut saya adalah paket lengkap. Ia memiliki ribuan dan bahkan miliaran cinta, kepekaan perasaan luar biasa. Kaum perempuan, entah berkarier atau ibu rumah tangga, saat tekanan datang terasa begitu membuncah dihati dan otak kita, ingatlah untuk selalu sadar. Bahwa kita adalah mahluk Tuhan yang teramat spesial. Kita adalah penerima mandat Tuhan bahwa dari rahim kita terlahir manusia-manusia mungil nan lucu, para penerus-penerus bangsa Indonesia ini.
Peribahasa yang menggambarkan “Surga terletak di bawah kaki ibu” pun juga seolah menegaskan bahwa amanah dan kodrat kita sebagai perempuan itu tidak bisa dikatakan biasa.
Suatu malam, tiba-tiba ada perasaan tak biasa menyelinap, seperti ribuan prajurit perang yang menekan dan menarik rahim hingga begitu luar biasa sakitnya. Aku tidak tahu pasti sakit yang bagaimana jika di tuai ke dalam kata dan tulisan. Jika digambarkan, jarak saya dan Tuhan hanya berbatas selembar kain tipis putih. Yang membuat saya begitu terasa dekat untuk berkomunikasi dengan-Nya. Saya bersandar pada-Nya dan berkata, “Sakit ini semoga menjadi pembayaran dosaku selama ini ya Rabb”. Dari kejauhan, Dua malaikat cantikku sedang melihat cemas bundanya sedang merintih dan menjerit kesakitan. Aku tidak tau pasti bagaimana aku meminta agar mereka tidak melihat bundanya yang tengah menjerit kesakitan dengan penuh air mata. Yah, begitulah saat-saat menjelang persalinan bagi setiap calon ibu di dunia. Rasanya adalah anugerah luar biasa yang Tuhan pernah ciptakan.
Ya moms, rasa itu adalah rasa yang aku rasakan saat aku sadar aku harus berjuang demi 3 buah hatiku dan teruntuk suamiku. Detik-detik terakhir aku mengilhami bahwa  dalam setiap kejadian adalah perjuangan. Dengan sadar saya tengah berjuang. Anehnya, saya merasa sangat hidup justru di saat-saat kritis dalam hidup saya. Melahirkan Arkaan Salik Mochamad Tomo Hanyokrokusumo-ku.
Sebagai ibu hamil resiko tinggi, saya menjalani kehamilan dengan tetap beraktivitas meski hanya semampu dan sekuat yang bisa saya jalankan. Saya pulang pergi Trenggalek-Surabaya setiap dua atau tiga minggu sekali.
Dan juga tetap mengurus dua buah hati saya yang lagi aktif dan lucu lucunya.
Saya menikah diusia yang relatif muda, 23 tahun. Di usia menuju 5 tahun pernikahan saya, alhamdulillah saya dikaruniai 3 orang anak. Saya punya Aischatin (3tahun), Asyifatin (1,5 tahun), dan Arkaan Salik (1 bulan).
Memiliki 3 anak super dengan jarak umur tidak terlampau jauh (bahkan bisa dibilang sangat dekat) ini membuat segala energi saya mau tidak mau harus saya prioritaskan pada mereka. Mereka adalah buah hati saya pada masa golden age-nya. Anak pertama saya, Aischatin Alhamdulillah ASI sampai hampir 2 tahun. Meskipun menurut kata orang, jika ibu menyusui dalam keadaan hamil dilarang menyusui lagi, alias harus stop memberikan ASI karena katanya ASI-nya sudah tidak enak. Saya melawan mitos tersebut. Saya tetap memberikan ASI pada Aischatin selama masa kehamilan anak kedua saya. Nyatanya, ASI yang katanya tidak enak, dia masih sangat doyan. Sampai pada akhirnya, di usia kehamilan 8 bulan, saya terpaksa harus menyapih juga alias berhenti menyusui anak pertama, karena mulai ada kontraksi saat memberikan ASI.
Gundah gulana saat melihat anak diberikan susu bubuk didalam botol, saat itu usianya 2 tahun kurang beberapa minggu. Sebulan berikutnya Alhamdulillah saya dikaruniai buah hati perempuan yang cantik dan sangat sehat. Sang adik lahir dengan berat badan lebih banyak dari kakaknya (meski selama hamil asupan gizinya harus terbagi dua, pada bunda dan kakaknya). Kegundahan lain lagi saya alami, saat usia anak kedua saya enam bulan, saya harus legowo saat melihat dua garis merah dalam testpack pada suatu pagi. Yap, saya hamil lagi diluar prediksi alias kebobolan moms. Nampaknya saya di telfon suami saja sudah bisa hamil yah, hehe. Golongan terlampau subur.
Seperti pertama Mom’s, saya tetap berusaha memberikan ASI. Berbeda dengan kehamilan anak kedua yang memang saya nanti-nantikan. Kali ini agak tersirat kegundahan, dan pertanyaan apakah saya bisa membagi sama rata waktu, kasih sayang saya pada tiga buah hati saya? Tetapi semua itu terlewati. Pada akhirnya saya harus sadar, bahwa tidak ada yang terbagi. Saat Tuhan mempercayakan amanahnya, maka Dia percaya bahwa kita mampu. Hal itu yang membuat saya kuat hingga kehamilan resiko tinggi saya saat hamil anak ketiga ini dapat terlewati dengan hasil yang melegakan. Diantara dua anak perempuan, saya di karuniai seorang anak laki-laki tampan, dan sehat. Kebahagiaan ini seakan membayar semua rasa sakit selama kehamilan anak ketiga saya ini.
Saat ini Asyifatin anak kedua saya yang berusia 1,5 tahun saya lanjutkan lagi ASI-nya. Alhamdulillah masih mau. Jadi semoga suami memaafkan istrinya ini yang makan bisa berkali-kali lipat dari porsi biasanya (karena menyusui dua bayi beda usia sekaligus) hehe.
Mom’s, Tuhan adalah pencipta segala macam keajaiban alam semesta, salah satu keajaiban yang tidak pernah kita bayangkan dahsyatnya adalah proses terjadinya manusia. Dari proses bertemunya dua zat hingga proses kelahiran yang luar biasa amazing, disana juga terdapat keajaiban lain salah satunya adalah ASI. Jadi, didalam ASI itu mengandung berbagai macam antibodi dan asupan penting yang diperlukan oleh si Bayi. Pernah baca atau dengar bahwa bayi yang minum ASI dibandingkan bayi yang minum susu formula, lebih jarang terkena penyakit? Itu benar adanya.
“Bagi kita momies yang terkadang langsung pesimis kalau ASI susah keluar, padahal ASI yang pertama kali keluar itu mengandung kolostrum yang mengandung immunoglobulin yang baik untuk pertahanan bayi melawan penyakit. Meskipun ASI-nya susah keluar, biarkan si bayi tetap mengisap agar ASI cepat keluar, lagipula bayi tidak akan kelaparan Mom’s, karena bayi memiliki cadangan lemak (brown fat), istilah lainnya ASI yang keluar ya memang sesuai dengan kebutuhan bayi yang memang masih sangat sedikit butuh ASI-nya sesuai dengan usianya.”
Begitulah kata dokter anakku dengan sangat telaten memberikan instruksi pada saya saat-saat saya berada di ruang pemulihan antara saya sadar dan tidak setelah proses persalinan kemarin di RSIA Kendangsari Surabaya. Alhamdulillah saya bahagia sekali berkesempatan melahirkan di RSIA Kendangsari ini yang memang murni pro-ASI.
Sadar atau tidak, terkadang tiba saat kita ngerumpi atau session curhat sesama Mom’s-Mom’s lainnya, masih juga ada yang “nyeletuk” kalo susu formula itu sama atau menyerupai kandungannya dengan ASI. Ada yang dikasih sufor aja karena kalau tidak, kita para mom’s susah ngapa ngapain, produksi asi nggak banyak, anaknya laki-laki jadi minum asinya banyak. Ada juga yang beralasan soalnya ASI-nya gak keluar dihari-hari pertama melahirkan dan langsung menyerah nggak mau repot. Ada yang lebih dahsyat lagi takut payudaranya kendor. Hmm.. Alasan terakhir ini rasanya jadi momok terbanyak kaum mom’s yaaa.. Hehe.
Kembali di pembahasan utama. Masa depan buah hati kita adalah segala-galanya. Belum lagi kalau sampai anak sakit. Nyawa setiap ibu didunia rasanya sudah ada di kerongkongan. Bergerak namun tak bernyawa. Seketika semua keindahan menjadi semu jika sampai melihat anak-anaknya sering sakit. Belum lagi biaya yang luar biasa (yang tidak semua orang tua mampu membayar biaya dokter, obat dan rumah sakit).
Curhatan Ibu-ibu sebagian besar adalah mitos
Mom’s, kita ingat-ingat yuk sesi-sesi kita diruang seminar, atau pastinya momies millenials saat ini sering merawat bayinya dengan tetap khusyuk melihat tutorial youtube atau buka artikel di google (kamus ajaib nan pinter momies masa kini). Nah, disana banyak juga sih ulasan dari ahli yang berkompeten bahwa banyak yang kita risaukan itu sebenarnya hanya issue dan mitos.
Sebagai contoh. Banyak yang bilang bahwa anak laki-laki minumnya kuat. Seakan kita diberikan suggest bahwa kita akan kualahan memberikan asi manakala kita memiliki anak laki-laki. Nyatanya, saat saya dikaruniai anak laki-laki, alhamdulillah saya tidak merasakan kepayahan dalam memberikan ASI meski dia minumnya memang kuat sekali. Semoga bisa tuntas hingga dua tahun nanti. Amien Ya Robal Alamin.
Saya lebih memilih memberi ASI daripada karir
Mom’s, siapa sih yang tidak mau eksis meniti karir menjadi wanita yang aktif dan bisa bersosial dengan baik. Mampu menjadi independent. Saya rasa semua perempuan memimpikannya. Akan tetapi, saat kita di berikan kepercayaan Tuhan untuk memiliki sebuah jiwa yang memiliki hak hak yang perlu kita perjuangkan bahwa masa depan dan karir buah hati kita itu jauh lebih dari segala yang penting. Terlebih apakah kita sebagai orang tua bisa lulus tidak menjadikan buah hati kita anak anak yang pandai akhlak dan cerdas akidahnya.
Ingat ya Mom’s, kita dirumah bukan karena kita tidak mampu atau tidak berdaya. Akan tetapi kita dirumah dalam rangka mempersiapkan generasi penerus bangsa yang tangguh secara fisik dan mental. Suatu hal yang oleh kaum laki-laki diakui sulit dikerjakan. Sekedar berkarir atau menempuh pendidikan kita bisa dikatakan setara dengan laki-laki. Kita bisa bersaing didalam kelas, atau dalam pekerjaan. Akan tetapi, Masyaallah untuk urusan yang satu ini, kita yang diberi jabatan khusus oleh Tuhan, menjadi Ibu dari jiwa-jiwa suci penerus bangsa. Jadi Moms, mari emban tugas ini dengan sepenuh hati, pun dengan sepenuh jiwa raga.
Suatu waktu ada perasaan bersalah pada suami dan masyarakat Kabupaten Trenggalek yang teramat saya cintai. Karena saya tidak bisa mendampingi sebagai Ibu PKK dan juga ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Trenggalek setiap waktu.
Tetapi saya sadari, saya memilih menghabiskan waktu bersama buah hati, bukan tanpa pondasi yang kuat. Dengan harapan dapat menjadi panutan baik bagi masyarakat saya. Yang mana ini juga bentuk sumbangsih saya kepada masyarakat Trenggalek agar sadar bahwa keluarga adalah pilar berbangsa dan bernegara.
Maka, saya ingin menjadi teman dalam hal keteladanan bahwa sesibuk dan sepenting apapun urusan kita, anak adalah harta dan kewajiban yang paling utama. Bukankah agama kita mengajarkan, amal yang tidak akan terputus adalah doa anak yang soleh/solehah. Jadi Mom’s, ayo semangat membesarkan dan membangun karakter buah hati kita, dengan langkah pertama memberikan ASI.
Saya juga sering berkegiatan diluar ruangan, mengisi acara maupun seminar, atau mendampingi suami ketika ada acara seremonial, tapi jangan lupakan Moms, stok ASI-nya ya. Sekarang, Alhamdulillah kita di mudahkan dengan teknologi pompa ASI, pensteril botol dan lemari es. Semua itu harus kita manfaatkan agar meskipun ditinggal beberapa waktu, buah hati kita tidak kekurangan asupan ASI. Apalagi sekarang dikota/kabupaten semakin aware dengan pengarusutamaan gender, lihat saja dikantor pelayanan publik dan fasilitas umum banyak disediakan ruang untuk ibu menyusui, jadi jika bayinya dianggap sudah mampu diajak momies beraktifitas, jangan takut. Tentunya konsultasikan selalu dengan dokter anak ya Mom’s.
Menyusui mendekatkan kita dengan buah hati
Sadar atau tidak, sehari setelah kita didaulat menjadi Ibu oleh Tuhan. Seakan kita menjadi seperti manusia super yang bisa mengerti keluhan bayi kita disaat menangis. Kapan menangis karena lapar, karena sakit, karena popoknya basah atau segudang kegelisahan lainnya yang bayi-bayi kita rasakan.
Saat-saat penting adalah saat-saat kita saling menatap, mendekap satu sama lain ketika menyusui. Semakin kita rasakan, kita merasa seperti terbuai angin surga yang menyejukkan lubuk hati kita. Memberikan perasaan bahagia penuh syukur penuh kebanggaan telah melahirkan seorang bayi lucu. Dengan tatapan mereka, seakan mereka berkata, bahwa kita adalah bidadari sekaligus pahlawan bagi mereka
Rasa lelah selama sembilan bulan, sakit saat melahirkan terbayar lunas saat melihat anak-anak kita tumbuh sehat, aktif, ceria, dan bahagia.
Perasaan super sensitive seakan menjadi teman para Mom’s di awal melahirkan. Karena rasa sakit setelah melahirkan, juga adaptasi dengan suasana baru (menyusui) dan mengurus baby. Don’t be stress ya Mom’s.
Alhamdulillah, Mom’s milenial’s dimudahkan dalam segala hal. Sekarang memanggil jasa perawatan untuk datang kerumah pun sangat mudah. Rileksasi sembari menyusui bayi terasa sangat meringankan beban lelah selama kehamilan dan proses persalinan. Saya selalu begitu, jika saya mulai terasa super lelah. Saya memanggil jasa massage kerumah. Saya tidak pernah tega berjauhan dengan buah hati. Padahal sepertinya saya lihat anak anak saya mulai bisa mandiri. Hanya saja mungkin ibunya ini yang terlalu lebay sayangnya. Hehe, tapi biarkan saja ya lebay. Bagi saya masa golden age mereka adalah masa yang tidak boleh saya lewatkan begitu saya. Itu mutlak tidak bisa ditawar.
Juga jangan lupa meminta pertolongan, atau sering konsultasi sama dokter ya moms. Saran saya, jangan buat patokan ibu lain sebagai patokan kita mengurus buah hati. Semua memiliki caranya sendiri. Pokoknya harus bahagia dan nyaman dirumah. Yang lebih penting selalu ceria dan bahagia, biar kualitas asinya makin bagus. Dan melahirkan anak anak yang hebat dan bahagia juga. Selamat ya Mom’s telah menjadi wanita super, ingat kita adalah pembentuk generasi penerus. Jangan menyerah, teruslah bahagia. Terimakasih, salam cinta dari saya.
Warm Regard’s
Novita Hardini Mochamad



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *