102015Mar
Karena Ibumu adalah Malaikatmu..

Karena Ibumu adalah Malaikatmu..

10676224_971064612908385_3856648999651211680_n
Karena Ibumu adalah Malaikatmu..

Hari ini ada tamu istimewa di ruang praktek saya. Dia adalah si kembar Rahman dan Rahim. Selalu pertanyaan pertama yang terlontar adalah bagaimana ASI nya bu? Lancar kan? Saya agak sedikit khawatir, karena biasanya ibu2 bayi kembar sulit diyakinkan kalau ASI nya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi kembarnya. Tapi jawahan ibu sungguh melegakan saya, karena ternyata hanya ASI yang diberikan pada bayi2nya dengan jalan menyusui bergantian atau bersamaan dengan dibantu oleh ayah atau nenek sang bayi yang dengan telaten membantu memposisikan bayi.

Waah keren ini, dalam hati saya memuji sang ibu, ayah beserta neneknya yang kompak untuk memberikan hanya ASI untuk si kembar Rahman-Rahim. Dan yang lebih membanggakan berat badan si kembar sudah naik 100 dan 150 gram. Waah.. nenek dan ayah idaman ini.. saya memuji habis-habisan peran nenek yang begitu luar biasa dengan tidak memprovokasi ibu bayi untuk memberikan susu formula tambahan pada cucu bayi kembarnya. Karena biasanya pada keluarga di Indonesia, nenek, oma atau eyang memegang peran sentral dalam pengambilan keputusan untuk si bayi. Walaupun bunda dan ayahnya sudah semangat empat lima untuk ASI.. tapi kalau eyang bilang.. kurang tuh ASI mu, lihat bayimu rewel terus, sudah ditambah sufor aja.. habislah semangat ibu untuk ASI eksklusif.

Mendadak ingatan saya melayang ke hari dimana si kembar Rahman Rahim dilahirkan melalui operasi caesar. Tapi walaupun begitu keduanya langsung dipeluk sayang bunda di dadanya untuk IMD (Inisiasi Menyusu Dini). meski perut sang bunda masih dalam proses operasi caesar. Teringat betapa kakak Rahman pantang menyerah untuk mencari dan menghisap puting bunda sebelah kiri. Sementara adik Rahim yang semula agak malas, mendadak ikutan bersemangat menhisap puting bunda sebelah kanan. Membuat saya tidak tega untuk mengangkat keduanya meski operasi telah selesai dan sejawat saya dokter obsgyn mengingatkan saya kalau operasinya sudah selesai. Waah sudah telanjur asyik nih.. jawab saya. Bapaknya pingin segera lihat tuh mba.. kata sejawat saya ini. Ayah sabar menunggu ya.. Rahman Rahim lagi sangat bersemangat menghisap puting bunda nih.. Sampai pada proses memindahkan bunda dari ruang operasi menuju ruang pemulihan pun bayi bayi kembar ini terus menempel di dada bundanya seakan enggan untuk dipisahkan. Bersyukur saya mempunyai teman2 di ruang operasi, baik itu dokter obsgyn, dokter anestesi, perawat operasi, perawat anestesi.. semuanya begitu mencintai bayi2 kecil ini dengan terus mengijinkan bayi2 ini menempel terus didada ibunya walaupun si ibu harus dipindahkan dari meja operasi ke brankar transport menuju ruang pemulihan.

Saya jadi teringat sebuah kisah dari guru saya dr Utami Roesli SpA yang membuat saya sampai detik ini terus berjuang agar Rahman, Rahim, Aza, Kinan.. dan semua bayi lainnya hanya mendapat ASI dari ibunya.

Ini kisah ketika sang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia, dia sebenarnya mencoba menawar pada Tuhan, mengapa saya harus dikirim ke dunia yang penuh dengan makhluk jahat.. sedangkan saya adalah makhluk yang kecil dan lemah, siapa yang akan menemani dan melindungiku Tuhan? Di surga saya hanya bernyanyi dan tertawa.. itu cukup untuk membuatku bahagia Tuhan..
Dengan sabar Tuhan menjawab pertanyaan sang bayi.. Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu.. Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari..
Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun.
Saat itusurga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar.
Tuhan, jika saya harus pergi, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikatku?
Tuhan menjawab..
engkau dapat memanggil malaikatmu.. IBU..
Malaikatmu mengandungmu selama 9 bulan dengan penuh cinta..
Memberimu Cinta dari darahnya..
Pemberian terindah yang takkan kau dapat gantinya..
Cintanya menjadikanmu memahami rahasia semesta..
Kau pun menjadi lebih kuat, dan lebih dekat dengan-KU
Karena Ibu mu adalah malaikatmu..

source : https://www.facebook.com/dini.adityarini/posts/971064832908363

1

Redaktur
dr. Dini Adityarini SpA
RSIA Kendangsari Surabaya
www.rsia.kendangsari.com