122017Sep
Menyusui Lebih Dari sekadar Memberi ASI

Menyusui Lebih Dari sekadar Memberi ASI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mende nisikan kata “menyusui” dalam berbagai ulasan. Menyusui berarti memberikan air susu untuk diminum (kepada bayi) dari buah dada. Secara hara ah, kata menyusui identik dengan tindakan memberikan Air Susu Ibu kepada bayinya. Akan tetapi, dibalik itu semua menyusui bukan hanya memberi ASI semata, tapi secara mendalam ada cinta didalamnya. Selain itu, ada pula makna proses belajar, ibadah, dan tanggung jawab.


MENYUSUI = CINTA

Selain pelukan, ciuman, dan sentuhan, menyusui merupakan bahasa cinta ibu untuk buah hatinya. Tiap tetesan ASI mewakili cinta ibu, yang dibutuhkan ananda selama enam bulan pertama. Cinta yang mampu memberikan tameng perlindungan dari berbagai serangan penyakit. Karena didalamnya mengandung banyak antibodi dan protein anti infeksi. Dengan ananda yang menyusui, merangsang hormon oksitosin ibu meningkat, dan berimbas adanya rasa nyaman dalam diri ibunya.

Cinta yang sanggup mengalahkan rasa sakit ibu, saat payudaranya bengkak akibat terus menyusui. Cinta yang menumbuhkan komitmen dan semangat bagi ibu untuk terus melawan rasa, demi tetap bisa memberikan ASI terbaik untuk ananda.

MENYUSUI = HUBUNGAN

Menyusui membangun hubungan batin kuat antara ibu dan bayi. Sehingga bunda lebih responsif pada kebutuhan bayi. Tidak hanya antara ibu dan bayi. Tapi juga dengan anggota keluarga dekat yang lain. Sebut saja ayah. Merupakan gur penting bagi kelancaran menyusui. Selanjutnya, kakak si bayi. Alangkah bijaksananya, bila kakak dilibatkan dalam kegiatan menyusui. Secara tidak langsung akan tumbuh rasa bersaudara, saling melindungi antara kakak beradik ini.

Di luar lingkup keluarga, penting bagi ibu menyusui dan keluarga untuk membangun hubungan yang baik dengan tenaga kesehatan dan masyarakat, termasuk di dalamnya pengasuh/ asisten rumah tangga.

MENYUSUI = INVESTASI

Semua orang tua pasti akan berusaha memberi yang terbaik untuk buah hatinya. Baik sekarang atau yang berguna bagi masa depannya kelak. Investasi ini, tidak saja dalam hal keuangan, tapi juga kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Menyusui sejak awal kelahiran bayi melalui imunisasi. Selain itu bisa didapat melalui kolostrum. Apabila menyusui itu dilanjutkan sampai enam bulan, atau bahkan setahun atau lebih, maka itu adalah investASI kesehatan yang tak ternilai bagi ananda.

MENYUSUI = PROSES BELAJAR

Menyusui ibarat kita belajar sepeda. Perlu waktu dan proses. Sama hal dengan menyusui, tidak hanya ibu yang terlibat belajar. Tapi juga ayah dan anggota keluarga dekat lainnya. Ibu belajar cara menggendong bayi dengan nyaman, menemukan posisi dan pelekatan yang efektif agar bayi mendapatkan ASI dengan maksimal, mengenali tanda lapar bayi, dan manajemen ASI perahnya. Bayi belajar cara membuka mulut, dan mengkoordinasikan gerakan mulut saat menyusu ke payudara ibu. Ayah pun mulai belajar beradaptasi dengan kehadiran ananda. Ayah harus mengubah rutinitasnya. Selain itu belajar cara mengganti popok, dan mampu bekerjasama dengan istri.

Akan sangat baik bila ayah juga belajar mengenali mood ibu menyusui, sehingga bisa jadi mood booster ibu untuk kembali ceria, dan ASI pun mengalir lancar. Pun begitu halnya dengan keberadaan orang tua si ibu. Sebaiknya hindari kesan “menggurui” ibu menyusui. Karena ini malah makin membuat ibu menyusui tidak percaya diri bahwa sebenarnya dia bisa menyusui.

MENYUSUI = TANGGUNG JAWAB

UUD 45 Pasal 28B menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, salah satu caranya adalah dengan mendapatkan ASI. Bahkan lebih spesi k dalam pasal 128 UU No. 36/2009 tentang Kesehatan dikatakan bahwa “Setiap bayi yang lahir berhak mendapatkan ASI Eksklusif”. Setiap orang di sekitar ibu menyusui, siapapun dia, memiliki tanggungjawab untuk memastikan kegiatan menyusui berjalan lancar. Apabila ada tantangan dalam prosesnya, ibu dan orang-orang disekitarnya bertanggungjawab mencari informasi solusi yang tepat, tapi bukan solusi instan, dengan memberi susu formula.

MENYUSUI = IBADAH

Setiap agama mengajarkan untuk menyusui anaknya sendiri. Saat proses kehamilan terjadi, Tuhan menyediakan sumber makanan bagi janin dalam kandungan. Tuhan bekerja melalui proses laktogenesis (pembentukan ASI) sejak kehamilan trimester dua. Menyusui merupakan ungkapan syukur pada Tuhan. Selain itu bentuk ibadah kita pada-Nya dalam merawat dan membesarkan buah hati yang telah dititipkan-NYA.

Berbahagialah setiap bunda yang menyusui buah hatinya, nikmati prosesnya yang tidak akan terulang lagi karena menyusui bukan hanya sekadar memberikan ASI, tapi lebih dari itu.

Diah Hernani

Narasumber
Diah Hernani W, SKM
Konsultan Menyusui

RSIA Kendangsari Surabaya




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *