rsia_bayi-kuning-2-1000x567-1.webp

Bayi kuning adalah kondisi yang membuat kulit dan mata si kecil tampak menguning. Hampir setiap orang tua baru pernah menghadapinya, dan kabar baiknya, sebagian besar kasus bersifat normal serta hilang sendiri dalam satu sampai dua minggu. Meski begitu, ada kalanya kuning pada bayi perlu penanganan medis segera. Membedakan keduanya adalah hal terpenting yang perlu Ayah dan Bunda pahami.

Artikel ini menjelaskan penyebab bayi kuning, tanda yang harus diwaspadai, cara pemeriksaannya, sampai langkah penanganan yang biasa dilakukan dokter.

Apa yang Menyebabkan Bayi Kuning?

Warna kuning muncul karena penumpukan bilirubin, zat sisa dari pemecahan sel darah merah. Pada bayi baru lahir, jumlah sel darah merahnya lebih banyak dan umur selnya lebih pendek dibanding orang dewasa. Sementara itu, organ hati yang bertugas mengolah bilirubin belum bekerja sepenuhnya.

Akibatnya, bilirubin menumpuk lebih cepat daripada kemampuan tubuh membuangnya. Inilah yang membuat kulit dan bagian putih mata tampak menguning. Proses ini umum terjadi pada hari kedua sampai keempat setelah lahir dan biasanya memuncak di hari ketiga sampai kelima.

Bayi Kuning Normal dan yang Perlu Diwaspadai

Dokter membedakan kondisi ini menjadi dua kelompok besar. Memahami bedanya membantu Ayah dan Bunda menentukan kapan cukup dipantau di rumah dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan.

Kuning fisiologis

Ini jenis yang paling sering terjadi dan tergolong normal. Ciri-cirinya muncul setelah usia 24 jam, kadarnya naik perlahan, dan menurun sendiri dalam satu sampai dua minggu. Bayi tetap aktif, mau menyusu dengan baik, dan berat badannya tidak turun berlebihan. Kelompok ini biasanya hanya perlu dipantau.

Kuning yang perlu diwaspadai

Sebagian kondisi memerlukan pemeriksaan lebih cepat. Beberapa hal yang membuat dokter lebih waspada adalah kuning yang muncul pada hari pertama setelah lahir, kadar bilirubin yang naik sangat cepat, kuning bertahan lebih dari dua minggu, atau disertai gejala lain seperti bayi lemas dan sulit menyusu.

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari perbedaan golongan darah ibu dan bayi, kelainan enzim tertentu, infeksi, sampai sumbatan saluran empedu. Kondisi-kondisi ini tidak bisa dinilai hanya dari warna kulit, dan memerlukan pemeriksaan laboratorium.

Tanda yang Harus Segera Diperiksakan

Pantau si kecil setiap hari pada minggu-minggu pertama. Segera bawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan tanda berikut:

  • Kuning muncul kurang dari 24 jam setelah lahir
  • Warna kuning menyebar sampai telapak tangan dan telapak kaki
  • Bayi tampak lemas, sulit dibangunkan, atau menangis dengan nada tinggi
  • Bayi menolak menyusu atau menyusu jauh lebih sedikit dari biasanya
  • Suhu tubuh meningkat atau justru terlalu rendah
  • Kuning menetap lebih dari dua minggu
  • Warna tinja pucat seperti dempul dan urine berwarna gelap

Kombinasi tinja pucat dan urine gelap perlu perhatian khusus, karena bisa menandakan gangguan pada saluran empedu yang membutuhkan penanganan cepat.

Bagaimana Dokter Menilai Kondisi Bayi Kuning?

Penilaian tidak cukup hanya dengan melihat warna kulit, karena warna kulit setiap bayi berbeda dan pencahayaan ruangan bisa menipu. Dokter biasanya memeriksa dengan urutan berikut.

Pemeriksaan fisik. Dokter menekan kulit bayi secara lembut dan melihat sampai bagian mana kuning menyebar. Cara ini memberi gambaran awal, tetapi tidak mengukur kadarnya secara pasti.

Pemeriksaan bilirubin. Kadar bilirubin diukur melalui kulit menggunakan alat khusus, dan bila hasilnya melewati batas tertentu akan dilanjutkan dengan pemeriksaan darah. Angka inilah yang menjadi dasar keputusan pengobatan.

Pemeriksaan penunjang lain. Bila ada kecurigaan penyebab tertentu, dokter dapat memeriksa golongan darah, fungsi hati, atau pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Penanganan yang Biasa Dilakukan

Untuk kasus ringan, dokter umumnya menyarankan pemantauan rutin dan memastikan bayi mendapat cukup asupan. Pemberian ASI yang lebih sering membantu bayi mengeluarkan bilirubin melalui tinja dan urine.

Bila kadar bilirubin sudah melewati ambang tertentu, tindakan yang paling umum adalah fototerapi. Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus dengan pelindung mata, dan kulit yang terpapar cahaya membantu memecah bilirubin sehingga lebih mudah dibuang tubuh.

Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat melakukan tindakan penggantian darah atau penanganan lain sesuai penyebabnya. Semua keputusan ini diambil berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan sekadar penilaian visual.

Peran Pemberian ASI

Menyusui berperan besar dalam membantu proses pemulihan, karena ASI merangsang bayi untuk lebih sering buang air besar sehingga bilirubin ikut terbuang. Bayi baru lahir umumnya menyusu delapan sampai dua belas kali dalam sehari, sesuai anjuran pemberian makan pada bayi baru lahir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kalau produksi ASI belum lancar, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Yang perlu dihindari adalah menghentikan ASI tanpa arahan dokter, karena justru bisa memperlambat pemulihan. Cara menyimpan ASI perah juga perlu diperhatikan bila Bunda memberi ASI perah di sela waktu menyusui langsung.

Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Banyak saran yang beredar di sekitar kita tidak berdasar. Berikut beberapa yang sebaiknya dihindari.

  • Memberi air putih atau air gula kepada bayi baru lahir tanpa arahan dokter.
  • Menjemur bayi di bawah matahari langsung dalam waktu lama. Paparan sinar matahari pagi singkat boleh dilakukan sebagai pendamping, tetapi bukan pengganti fototerapi dan berisiko membuat bayi kepanasan.
  • Mengolesi ramuan atau bahan apa pun ke kulit bayi yang menguning.
  • Menunda pemeriksaan karena menganggap semua kuning akan hilang sendiri.

Kapan Harus ke Dokter

Selain tanda-tanda di atas, ada situasi yang sebaiknya tidak ditunggu. Bila bayi tampak tidak seperti biasanya, menyusu jauh lebih sedikit, atau warna kuningnya terlihat makin pekat dari hari ke hari, segera periksa. Pemeriksaan awal tidak hanya menenangkan, tetapi juga mencegah penanganan yang terlambat.

Kontrol rutin setelah lahir juga penting. Jadwal imunisasi bayi bisa dijadikan pengingat untuk sekaligus memeriksakan kondisi kulit dan berat badannya. Sementara itu, menjaga kebersihan dan kenyamanan si kecil di rumah mendukung pemulihannya, termasuk hal sederhana seperti perawatan tali pusar bayi baru lahir yang benar.

FAQ Bayi Kuning

Berapa lama bayi kuning biasanya hilang?

Pada kasus fisiologis, warna kuning umumnya mereda dalam satu sampai dua minggu. Bila bayi lahir prematur, prosesnya bisa sedikit lebih lama.

Apakah menjemur bayi cukup untuk mengatasi kuning?

Tidak selalu. Menjemur dalam waktu singkat bisa membantu, tetapi pada kadar bilirubin yang tinggi dibutuhkan fototerapi di fasilitas kesehatan. Jangan mengandalkan penjemuran saja.

Apakah ASI bisa memperburuk kuning?

Ada dua kondisi berbeda yang berkaitan dengan ASI, dan keduanya tidak sama. Karena itu, keputusan menghentikan atau melanjutkan menyusui sebaiknya berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, bukan dugaan.

Bagaimana mencegah bayi kuning?

Tidak ada cara yang menjamin pencegahan, karena sebagian bergantung pada kondisi bayi dan golongan darah. Yang bisa dilakukan adalah memastikan bayi menyusu cukup sering, memantau kondisinya setiap hari, dan mengikuti jadwal kontrol setelah lahir.

Kesimpulan

Bayi kuning adalah kondisi yang umum dan sebagian besar bersifat sementara. Kuncinya bukan menebak dari warna kulit, melainkan memantau tanda-tanda bahaya dan memeriksakan kadar bilirubin bila memang diperlukan. Bila si kecil menyusu cukup, tampak aktif, dan kuningnya mereda perlahan, biasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

RSIA Kendangsari hadir sebagai sahabat kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, dan keluarga. Kalau Ayah dan Bunda merasa ada yang perlu dipastikan soal kondisi si kecil setelah lahir, tim dokter anak kami siap membantu. Konsultasikan langsung kebutuhan si kecil ke RSIA Kendangsari di Surabaya. 💙


panduan-mpasi-bayi-1000x567-1.webp

Panduan MPASI ini disusun untuk Bunda yang baru pertama kali menghadapi si kecil di usia 6 bulan. Momen ini sering bikin campur aduk: senang karena bayi mulai mengenal makanan, tapi juga bingung harus mulai dari mana. Teksturnya seperti apa? Berapa sendok? Kalau bayinya menolak, harus bagaimana? Semua pertanyaan itu wajar, dan artikel ini menjawabnya satu per satu dengan urutan yang mudah diikuti.

MPASI singkatan dari Makanan Pendamping ASI. Sesuai namanya, MPASI mendampingi ASI, bukan menggantikannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu MPASI dimulai di usia 6 bulan sementara ASI tetap diberikan sampai usia 2 tahun atau lebih. Jadi dua-duanya berjalan bersamaan, bukan saling menggantikan.

Apa Itu MPASI dan Kenapa Tidak Boleh Dimulai Terlalu Dini?

Banyak orang tua tergoda memberi makanan lebih awal karena bayi terlihat lapar terus atau berat badannya naik lambat. Sebaiknya tunda dulu. Sebelum 6 bulan, sistem pencernaan bayi belum siap mengolah makanan padat, ginjalnya masih bekerja berat, dan refleks menjulurkan lidah masih kuat sehingga makanan cenderung didorong keluar. Memberi MPASI terlalu dini justru meningkatkan risiko diare, alergi, dan tersedak.

Sebaliknya, memulai MPASI terlalu lambat juga tidak menguntungkan. Setelah 6 bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi melebihi yang bisa dipenuhi ASI saja. Di rentang usia inilah masalah gizi mulai muncul kalau kebutuhan besi dan protein hewani tidak tercukupi. Oleh karena itu, usia 6 bulan menjadi titik yang disepakati banyak pedoman kesehatan.

Kapan Bayi Siap Mulai MPASI?

Usia bukan satu-satunya penanda. Perhatikan juga kesiapan fisik dan perilakunya. Bayi umumnya siap MPASI kalau menunjukkan tanda berikut:

  • Kepala sudah tegak dan stabil saat ditopang
  • Bisa duduk dengan sedikit bantuan dan menahan berat badannya
  • Refleks menjulurkan lidah mulai hilang, jadi makanan tidak otomatis didorong keluar
  • Menunjukkan minat pada makanan, misalnya meraih atau membuka mulut saat melihat orang makan
  • Berat badannya sudah mencapai dua kali berat lahir

Kalau tanda-tanda ini belum muncul di usia 6 bulan, konsultasikan dengan dokter anak. Tidak perlu memaksa, karena setiap bayi punya tempo sendiri.

Tekstur MPASI Sesuai Usia

Kesalahan yang paling sering terjadi bukan pada menunya, melainkan pada teksturnya. Banyak orang tua bertahan di bubur halus terlalu lama, padahal kemampuan mengunyah perlu dilatih bertahap. Perhatikan panduan berikut.

Usia 6–8 Bulan

Mulai dari makanan lumat atau puree kental. Bukan cair seperti susu, tapi juga belum berbutir. Contohnya bubur beras yang dimasak lembut lalu dihaluskan, kentang tumbuk, atau labu kuning kukus yang dilumatkan.

Usia 9–11 Bulan

Naikkan tekstur menjadi cincang halus dan makanan yang bisa dipegang bayi (finger food). Potongan harus cukup besar untuk digenggam, tapi cukup lunak untuk dilumatkan dengan gusi. Pada tahap ini, bayi juga mulai belajar menjumput dan memasukkan makanan ke mulutnya sendiri.

Usia 12–24 Bulan

Bayi sudah bisa mengonsumsi makanan keluarga dengan tekstur normal, selama rasanya tidak terlalu asin atau pedas dan potongannya aman. Tidak perlu memasak menu terpisah lagi, cukup sisihkan sebelum dibumbui untuk anggota keluarga lain.

Porsi dan Jadwal Makan Sehari

Awali dengan dua sampai tiga sendok makan per sesi, lalu tambah jumlahnya seiring bertambahnya usia dan nafsu makan. Jangan berpatokan pada angka di buku terlalu kaku, karena kebutuhan setiap bayi berbeda. Yang lebih penting adalah pola makannya teratur.

  • 6–8 bulan: 2–3 kali makan utama plus 1–2 kali camilan
  • 9–11 bulan: 3–4 kali makan utama plus 1–2 kali camilan
  • 12–24 bulan: 3–4 kali makan utama plus 1–2 kali camilan

Susun jadwal MPASI dengan jarak yang cukup dari waktu menyusui, kira-kira dua jam. Kalau bayi baru menyusu penuh, dia cenderung kenyang dan menolak makan. Sebaliknya, jangan menunda makan sampai bayi kelaparan dan rewel. Untuk bayi yang masih minum ASI perah, cara menyimpan ASI perah yang benar juga perlu diperhatikan agar kualitasnya tetap terjaga saat diberikan di sela jadwal makan.

Isi Piring Bayi: Zat Gizi yang Wajib Ada

Setiap menu MPASI sebaiknya memuat lima kelompok bahan berikut:

  • Makanan pokok sebagai sumber energi, misalnya beras, kentang, jagung, atau ubi
  • Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging sapi, atau hati ayam
  • Protein nabati seperti tahu dan tempe
  • Sayur dan buah untuk vitamin, mineral, dan serat
  • Lemak tambahan seperti santan encer, minyak, atau mentega tawar

Protein hewani pantas mendapat perhatian lebih. Bahan ini menyumbang zat besi, zinc, dan asam amino esensial yang sulit dipenuhi dari sumber nabati. Penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa kecukupan protein hewani pada masa MPASI berkaitan erat dengan pencegahan tengkes dan dukungan tumbuh kembang anak. Panduan gizi seimbang selengkapnya bisa dilihat di pedoman Isi Piringku Kementerian Kesehatan.

Untuk variasi, coba kombinasikan bubur beras dengan hati ayam dan bayam, nasi tim dengan ikan kembung dan wortel, atau kentang tumbuk dengan telur dan brokoli. Sajikan dalam porsi kecil tetapi sering, bukan satu porsi besar sekaligus.

Responsive Feeding: Biarkan Bayi yang Menentukan

Selain isi piring, cara memberi makan sama pentingnya. Panduan MPASI terbaru menempatkan responsive feeding sebagai kunci: orang tua bertugas menyediakan makanan bergizi, sedangkan bayi yang menentukan berapa banyak yang mau dimakan.

Hindari memaksa, menyuapi sambil distraksi tontonan, atau mengejar target sendok. Bayi yang sudah kenyang biasanya memalingkan muka, menutup mulut, atau membuang sendok. Sikap itu bukan pembangkangan, melainkan tanda bahwa ia sudah cukup. Dengan mengenali tanda ini, bayi belajar menghargai rasa lapar dan kenyangnya sendiri, kebiasaan yang berguna sampai dewasa.

Makanan yang Harus Dihindari

  • Madu sebelum usia 1 tahun, karena berisiko memicu botulisme pada bayi
  • Garam dan gula tambahan, karena ginjal bayi belum mampu mengolahnya dalam jumlah banyak
  • Susu sapi segar sebagai minuman utama sebelum usia 1 tahun
  • Makanan berisiko tersedak seperti kacang utuh, anggur utuh, dan permen keras
  • Teh dan kopi, karena menghambat penyerapan zat besi

Soal alergen, banyak orang tua menundanya karena takut. Padahal anjuran terbaru justru mendorong pengenalan dini, termasuk telur dan kacang, selama diberikan satu per satu dan dalam porsi kecil. Beri jeda dua sampai tiga hari sebelum menambah bahan baru, supaya mudah melacak pemicu kalau muncul reaksi. Jika keluarga punya riwayat alergi berat, diskusikan dulu dengan dokter anak.

Kesalahan Umum Saat Memberi MPASI

  1. Memulai sebelum bayi menunjukkan tanda siap
  2. Bertahan di tekstur halus sampai usia 1 tahun sehingga kemampuan mengunyah tidak terlatih
  3. Menyuapi sambil menonton gawai, yang membuat bayi tidak menyadari rasa kenyang
  4. Mengandalkan menu instan bergula tinggi sebagai makanan utama
  5. Melewatkan jadwal makan karena menunggu bayi meminta

Menariknya, tanda bayi siap MPASI sering keliru dibaca. Bayi yang memasukkan tangan ke mulut atau terbangun lebih sering di malam hari kadang dianggap tanda lapar, padahal bisa jadi fase perkembangan biasa. Pola tidur dan perilaku bayi memang mengalami banyak perubahan di paruh pertama tahun pertama, sama seperti yang dibahas pada artikel manfaat inisiasi menyusu dini. Kalau Bunda ragu, catat pola makannya selama beberapa hari, lalu bawa catatan itu saat konsultasi.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Sebagian kondisi tidak cukup ditangani sendiri di rumah. Segera periksa ke dokter jika bayi:

  • Tidak naik berat badan atau justru turun setelah MPASI dimulai
  • Menolak semua makanan selama lebih dari satu minggu
  • Batuk atau tersedak hampir setiap kali makan
  • Mengalami diare, muntah terus-menerus, atau muncul ruam setelah makan bahan tertentu
  • Tampak lemas atau sulit dibangunkan

Selain itu, pemeriksaan tumbuh kembang rutin membantu memastikan asupan gizi bayi sesuai kebutuhan. Jadwal imunisasi bayi juga bisa dijadikan pengingat untuk sekaligus berkonsultasi soal MPASI, karena umumnya berdekatan dengan jadwal kontrol bulanan.

FAQ MPASI

Berapa lama MPASI diberikan?

MPASI berjalan sampai usia 2 tahun atau lebih, bersamaan dengan pemberian ASI. Setelah usia 1 tahun, porsi dan variasi makanannya makin mendekati makanan keluarga.

Apakah bayi boleh makan nasi seperti orang dewasa?

Boleh, asalkan teksturnya disesuaikan. Di usia 6–8 bulan nasi diolah menjadi bubur lembut, lalu bertahap menjadi nasi tim dan akhirnya nasi biasa saat bayi berusia sekitar 1 tahun.

Bagaimana kalau bayi hanya mau makanan manis?

Kurangi pemberian rasa manis secara bertahap, lalu perkenalkan kembali rasa asli bahan makanan. Jangan menambahkan gula atau garam hanya agar bayi mau makan, karena kebiasaan rasa terbentuk sejak usia ini.

Apakah MPASI boleh dimasak sehari untuk beberapa hari?

Boleh, dengan catatan disimpan dalam wadah bersih dan disimpan di lemari pendingin. Untuk jangka panjang, bekukan dalam porsi sekali makan dan hangatkan hanya bagian yang akan diberikan.

Kesimpulan

Panduan MPASI di atas bisa Bunda jadikan pegangan awal. Pastikan usia dan tanda kesiapan sudah terpenuhi, naikkan tekstur secara bertahap, penuhi isi piring dengan protein hewani dan bahan bergizi lain, lalu biarkan bayi menentukan porsinya sendiri. Hindari madu, garam, dan gula tambahan pada tahun pertama, serta waspadai makanan yang berisiko membuat tersedak. Dengan pendekatan yang tenang dan konsisten, pengalaman makan pertama si kecil bisa berjalan menyenangkan untuk Bunda dan bayinya.

RSIA Kendangsari hadir sebagai sahabat kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, dan keluarga. Kalau Bunda ingin memastikan tumbuh kembang si kecil berjalan optimal atau butuh arahan menu MPASI yang sesuai kondisinya, tim dokter anak kami siap membantu. Konsultasikan langsung kebutuhan si kecil ke RSIA Kendangsari di Surabaya. 💙


featured_nutrisi_ibu_hamil.webp

Trimester kedua (minggu 13–27) sering disebut sebagai masa paling nyaman dalam kehamilan. Rasa mual biasanya mulai berkurang, dan Bunda mulai memiliki lebih banyak energi. Di periode ini, janin juga mengalami pertumbuhan yang pesat, sehingga kebutuhan nutrisi Bunda menjadi sangat penting untuk mendukung perkembangan organ, tulang, dan otak si kecil.

Artikel ini akan membahas kebutuhan gizi utama ibu hamil di trimester kedua, makanan yang dianjurkan dan dihindari, serta tips menjaga kesehatan selama masa ini.

Kebutuhan Gizi Utama di Trimester 2

  • Asam folat — penting untuk perkembangan sistem saraf dan otak janin. Dapatkan dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan suplemen sesuai anjuran dokter.
  • Zat besi — mendukung pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia. Sumber: daging merah, bayam, hati ayam.
  • Kalsium — untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin. Sumber: susu, yoghurt, keju, dan ikan teri.
  • Protein — penting untuk pertumbuhan jaringan dan organ. Sumber: telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe.
  • Omega-3 (DHA) — mendukung perkembangan otak dan mata janin. Sumber: ikan salmon, sarden, dan kacang kenari.

Makanan yang Dianjurkan

Bunda disarankan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan porsi tepat. Perbanyak sayur dan buah segar, karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan gandum utuh, serta sumber protein sehat. Jangan lupa cukup minum air putih untuk menjaga hidrasi tubuh.

Makanan yang Perlu Dihindari

  • Makanan mentah atau setengah matang, seperti sushi dan telur mentah.
  • Makanan tinggi gula dan lemak jenuh yang berlebihan.
  • Kafein berlebihan yang bisa mengganggu tidur dan kesehatan.
  • Alkohol dan rokok yang sangat berbahaya bagi janin.
  • Ikan dengan kandungan merkuri tinggi, seperti hiu dan king mackerel.

Pentingnya Pemeriksaan Rutin

Selama trimester kedua, Bunda disarankan melakukan pemeriksaan rutin kehamilan (ANC) untuk memantau kondisi Bunda dan janin. Pemeriksaan seperti USG membantu memastikan pertumbuhan janin berjalan normal. Konsultasi rutin dengan dokter kandungan juga penting untuk mengelola asupan gizi sesuai kebutuhan.

Tips Menjaga Kesehatan di Trimester 2

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dalam porsi kecil tapi sering.
  • Minum air putih cukup, sekitar 8–10 gelas sehari.
  • Lakukan aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki, dengan persetujuan dokter.
  • Istirahat cukup dan kelola stres dengan baik.
  • Ikuti anjuran suplemen dari dokter, seperti zat besi dan kalsium.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Segera hubungi dokter jika Bunda mengalami gejala seperti pendarahan, nyeri perut hebat, demam tinggi, gerakan janin berkurang, atau kontraksi yang tidak biasa. Penanganan dini sangat penting untuk menjaga kesehatan Bunda dan janin.

Kesimpulan

Trimester kedua adalah masa emas bagi pertumbuhan janin. Dengan pemenuhan nutrisi yang tepat, pemeriksaan rutin, dan gaya hidup sehat, Bunda dapat menjaga kesehatan diri dan mendukung perkembangan si kecil secara optimal.

RSIA Kendangsari hadir untuk mendampingi perjalanan kehamilan Anda dengan tenaga medis profesional dan layanan yang berkualitas. Jangan ragu untuk berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan rutin bersama kami.


Ingin Konsultasi Kehamilan dengan Tenaga Medis Profesional?

RSIA Kendangsari — rumah sakit ibu dan anak siap mendampingi perjalanan kehamilan Anda dengan layanan kesehatan yang berkualitas dan terpercaya.

Atau kunjungi rsia.kendangsari.com untuk info lebih lanjut

 




Hubungi Kami


Kontak

031 8347200 / 031 8436200
082257251113


Lokasi Kami

Jl. Raya Kendangsari 38 Surabaya
Jawa Timur




Subscribe


Mendaftarlah ke buletin RSIA Kendangsari untuk menerima semua berita dan diskon dari RSIA Kendangsari Surabaya





    Social Media


    Instagram

    @rsiakendangsari


    Youtube

    Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari


    Facebook

    @rsiakendangsarisurabaya




    Copyright by RSIA Kendangsari 2026. All rights reserved. Designed by StudioSoft



    Copyright by RSIA Kendangsari  2026. All rights reserved. Designed by StudioSoft